MAKNA CULPA LATA DAN CULPA LEVIS DALAM HUKUM KEDOKTERAN

Nabil Bahasuan

Abstract


Profesi dokter belakangan ini menjadi sorotan berita di berbagai media massa. Salah satu sebabnya adalah keawaman masyarakat tentang pengertian profesi kedokteran itu sendiri. Masalah muncul jika seorang dokter gagal memberikan pelayanan kepada pasien, sehingga tidak jarang seorang dokter dikatakan melakukan suatu kelalaian, yang mana belum tentu kelalaian yang dilakukan seorang dokter itu akibat kesalahannya. Dengan demikian, penting untuk dikaji: pertama, apakah culpa lata yang dilakukan oleh seorang dokter/dokter gigi sudah tertulis di dalam undang-undang praktik kedokteran. Kedua, apakah culpa levis yang dilakukan oleh dokter/dokter gigi dapat membebaskan dokter dari tuntutan mal praktik. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa sebagai tenaga kesehatan yang professional, dokter, dokter gigi dan perawat tentunya harus bersikap professional di dalam pelayanan kesehatan terhadap pasien dan adanya kesembronoan atau ketidakcakapan terhadap dirinya seharusnya diatur di dalam undang-undang keprofesiannya masing-masing. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran tidak mencantumkan kata kelalaian, apalagi yang lebih terperinci seperti arti culpa lata dan culpa levis. Selain itu, profesi dokter bukan profesi bisnis, jadi segala tindakan yang dilakukan oleh dokter yang juga termasuk sebagai tenaga kesehatan, di dalam memberikan pelayanan kepada pasiennya sekalipun tidak ditemukan dasar hukum yang tegas, dokter tetap dapat dituntut pertanggungjawaban atas tindakan medisnya.

Keywords


profesi dokter; culpa lata dan culpa levis

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.30649/phj.v14i1.33

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2014 Perspektif Hukum

The Journal is published by The Faculty of Law - Hang Tuah University

©All right reserved 2016. Perspektif Hukum, ISSN: 1411-9536, e-ISSN: 2460-3406

 

View My Visitor Stats